Kamis, 28 Juni 2012

Makalah Behavioristik


BAB I
PENDAHULUAN


A.Latar Belakang
Belajar merupakan kebutuhan pokok bagi setiap manusia untuk menuju pada kehidupan yang lebih baik dan maju. Namun pada kenyataannya, masyarakat masih blum menyadari akan pentingnya belajar dan ilmu pengetahuan untuk kehidupannya. Pada pembahasan ini menjelaskan pentingnya pembiasaan untuk belajar secara rutin, serta menumbuhkan kecintaan untuk membaca buku, dan mencari tahu ilmu-ilmu pengetahuan baru demi menunjang masa depan individu tersebut.
Sugesti adanya kemalasan untuk belajar di karenakan, sebagian masyarakat kurang bahkan tidak tau pentingnya serta tujuan dalam pembelajaran itu sendiri. Mereka menganggap bahwa proses pembelajaran adalah pembuangan waktu yang sia-sia dan tidak membuahkan hasil yang cepat dan nyata. Oleh karena itu mereka lebih memilih untuk langsung bekerja sesuai dengan kemampuan yang dapat  mereka lakukan tanpa adanya  latar belakang pendidikan yang menjamin kesejahteraan sosial mereka di waktu yang akan datang.

B. Tujuan
Pokok  pembahasan ini bertujuan untuk menjelaskan betapa pentingnya proses pembiasaan belajar untuk menjamin kehidupan setiap individu sebagai bekal masa depannya. Pembiasaan ini dapat di lakukan sedini mungkin sejak seorang anak berada di taman kanak-kanak  atau sejak duduk di bangku sekolah dasar.  Namun pembiasaan ini jangan sampai melebihi batas, harus di lakukan secara bertahap, memerlukan waktu dan proses yang cukup lama, dan tidak bisa sekaligus di paksakan pada setiap individu.
Proses ini harus di dasari dengan adanya rasa senang dalam dirinya untuk membaca dan belajar tanpa adanya keterpaksaan dalam hatinya. Sehingga proses pembiasaan belajar dapat di terapkan secara benar dan individu bisa terbiasa untuk belajar secara rutin dan menghilangkan kebiasaan proses belajar kebut semalam ketika adanya ujian, yang sudah menjadi tradisi pada setiap masyarakat kebanyakan. Pada dasarnya pembelajaran kebut semalam sangat tidak efektif dalam proses masuknya ilmu pengetahuan, hal itu hanya akan membuang waktu dan tidak menghasilkan hasil yang optimum.


BAB II
PEMBAHASAN


Menurut teori behaviorisme, belajar dipandang sebagai perubahan tingkah laku, dimana perubahan tersebut muncul sebagai respons terhadap berbagai stimulus yang dating dari luar diri subyek. Dengan demikian belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, di ukur dan di nilai secara konkret. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respon adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku, S-R (Stimulus – Respons).
Secara teoritik, belajar dalam konteks behaviorisme melibatkan empat unsur pokok yaitu:
1.    Drive yaitu suatu mekanisme psikologis yang mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhannya  melalui aktivitas belajar.
2.    Stimulus yaitu ransangan dari luar diri subyek yang dapat menyebabkan terjadinya respons.
3.    Response adalah tanggapan atau reaksi terhadap rangsangan atau stimulus yang diberikan. Dalam perspektif behaviorisme, respons biasanya muncul dalam bentuk perilaku yang kelihatan.
4.    Reinforcement adalah penguatan yang diberikan kepada subyek belajar agar ia merasakan adanya kebutuhan untuk memberikan respons secara berkelanjutan. Berikut ini beberapa pandangan tentang teori Behavioristik oleh para ahli :


A. Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936), Teori Classical Conditioning.

Dengan menggunakan kata kunci conditioning, Pavlov hendak menekankan bahwa tidak semua stimulus dapat dianggap sebagai variabel anteseden dari peristiwa belajar. Stimulus yang tidak menyebabkan terjadinya aktivitas disebut sebagai stimulus fisiologis terutama melalui sistem reseptor. Bagi Pavlov, stimulus ini hanya melahirkan refleks dan karena itu tidak dapat dikatagorikan sebagai respons belajar. Stimulus fisiologis biasanya hanya dapat memunculkan refleks, sehingga diperlukan adanya stimulus yang terkondisi untuk merubah refleks menjadi aktivitas belajar. Dengan demikian, respons belajar, lanjut Pavlov, hanya terjadi melalui stimulus yang terkondisi dan terkontrol. 
Dalam argumentasi Pavlov ini terlihat bahwa aktivitas belajar berlansung dalam suatuproses evolusi melalui stimulus terkondisi yang dirancang secara sistematis dan dikontrolsecara ketat untuk mendapat perilaku belajar yang memadai.


B. Burrhus Frederic Skinner (1904-1990), Teori Operant Conditioning.

B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses
operant conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik. Hal penting yang dapat dipelajari dari teori belajar Skiner yaitu ;
1.    Proses belajar hendaknya dirancang untuk jangka waktu yang pendek berdasarkan tingkah laku yang dipelajari sebelumnya
2.    Pada awal proses belajar perlu ada reinforcement serta kontrol terhadap reinforcement yang diberikan.
3.    Reinforcement perlu segera diberikan begitu terlihat adanya respons belajar yang benar
4.    subyek belajar perlu diberi kesempatan untuk melakukan generalisasi, dan diskriminasi stimuli sebab hal ini akan memperbesar kemungkinan keberhasilan.
Beberapa prinsip Skinner antara lain :
1.    Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.
2.    Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
3.    Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
4.    Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Untuk itu, lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.
5.    Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri.
6.    Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebaiknya, hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variabel Rasio rein forcer.
7.    Dalam pembelajaran digunakan shaping


C. Albert Bandura (1925-masih hidup), .

Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya. Faktor-faktor  yang berproses dalam belajar observasi adalah:
1.    Perhatian, mencakup peristiwa peniruan dan karakteristik pengamat.
2.    Penyimpanan atau proses mengingat, mencakup kode pengkodean simbolik.
3.    Reproduk di motorik, mencakup kemampuan fisik, kemampuan meniru, keakuratan umpan balik.
4.    Motivasi, mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri.
Selain itu juga harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip - prinsip sebgai berikut:
1.    Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya.
2.    Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
3.    Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai dan perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. Karena melibatkan atensi, ingatan dan motifasi, teori Bandura dilihat dalam kerangka Teori Behaviour Kognitif. Teori belajar sosial membantu memahami terjadinya perilaku agresi dan penyimpangan psikologi dan bagaimana memodifikasi perilaku.Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagaipendidikan secara massal.



Implikasi Teori Behavioristik Terhadap Pembelajaran
Implikasi Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran Berangkat dari asumsi bahwabelajar merupakan perubahan perilaku sebagai akibat interaksi antara stimulus denganrespons, maka pembelajaran kemudian dipandang sebagai sebuah aktivitas alih pengetahuan
 


(transfer of knowledge) oleh guru kepada siswa. Dalam perspektif semacam ini,terlihatbahwa peran guru dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Kedudukan siswa
dalam konteks pembelajaran behaviorisme menjadi “orang
yang tidak tahu apa-
apa” dan
karena itu perlu diberitahu oleh guru. Dengan demikian perubahan perilaku siswa mestibersesuaian dengan apa yang dikehendaki oleh guru. Jika terjadi perubahan perilaku yangtidak sesuai maka hal tersebut dipandang sebagai error behavior yang perlu diberikanganjaran.Pembelajaran dengan demikian dirancang secara seragam dan berlaku untuk semuakonteks, tanpa mempersoalkan perbedaan karakteristik siswa maupun konteks sosial dimanasiswa hidup. Kontrol belajar dalam pembelajaran behavioristik tidak memberi peluang bagisiswa untuk berekspresi menurut potensi yang dimilikinya melainkan menurut apa yangditentukan.Mengacu pada berbagai argumentasi yang telah dipaparkan, maka secara ringkasimplikasi teori behavioristik dalam pembelajaran dapat dideskripsikan sebagai berikut:1)

Pembelajaran adalah upaya alih pengetahuan dari guru kepada siswa.2)

Tujuan pembelajaran lebih ditekankan pada bagaimana menambah pengetahuan.3)

Strategi pembelajaran lebih ditekankan pada perolehan keterampilan yang terisolasidengan akumulasi fakta yang berbasis pada logika liner.4)

Pembelajaran mengikuti aturan kurikulum secara ketat dan belah lebih ditekankan padaketerampilan mengungkapkan kembali apa yang dipelajari.5)

Kegagalan dalam belajar atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuandikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuandikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.6)

Evaluasi lebih ditekankan pada respons pasif melalui sistem paper and pencil test danmenuntut hanya ada satu jawaban yang benar. Dengan demikian, evaluasi lebih ditekankanpada hasil dan bukan pada proses, atau sintesis antara keduanya.
 


BAB IIIKESIMPULAN
Dengan adanya proses belajar behavioristik, dapat melatih individu untuk bisamempergunakan waktu secara efektif. Proses pembelajaran behavioristik juga terbukti efektif bagi individu terutama pelajar dalam mencerna ilmu atau pelajaran, baik yang mudahmaupun yang sulit sekalipun dan membuahkan hasil yang memuaskan di bandingkan denganbelajar kebut semalam.Otak manusia dapat menerima ilmu secara bertahap dan membutuhkan proses yangcukup lama, agar ilmu tersebut tersimpan lama dalam memori otak, sehingga ilmu yangmasuk tidak cepat hilang karena lupa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar